Pada umumnya, ketika mendengar sebuah kejahatan dalam berita, baik cetak, elektronik maupun oral kita selalu difokuskan dengan "mengapa", "bagaimana" kejahatan tersebut bisa terjadi, bahkan ketika kejahatan tersebut sudah terungkap, respon kita sebagai manusia pada umumnya hanya sekedar Oooohh, lalu bersyukur tanpa membayangkan atau memperhatikan gimana jadinya si korban itu kedepan-nya atau apakah para korban akan kembali menjalani kehidupan dengan normal lagi?!
Room arahan Lenny Abrahamson, sebagai hasil adaptasi dari sebuah novel fiksi berjudul sama karya dari Emma Donogue yang juga menjadi penulis naskah-nya mencoba menggambarkan sebuah dampak dari anak lelaki yang baru berumur 5 tahun Jack (Jacob Tremblay), yang sepanjang hidup-nya tinggal bersama ibu-nya Joy (Brie Larson) dalam sebuah kamar berukuran tidak lebih dari 3x3m, tak berjendela dan selalu terkunci rapat. koneksi mereka hanya Old Nick (Penculik) dan sebuah Televisi.
Konsep ruang sempit ini secara literal bukan hanya sekedar penjara fisik, tapi juga merupakan sebuah batas perspektif terhadap dunia nyata bagi seorang anak yang berumur 5 tahun.
Jack yg semenjak lahir tak pernah meninggalkan ruangan tersebut, menjadikan sudut pandangnya terhadap Dunia pun berbeda,
Mungkin untuk penonton yang sudah punya anak lebih sensitif akan keganjilan sebuah kekeliruan pada perkembangan karakter si Jack. Karena kita tau umur dibawah 5 tahun merupakan periode menentukan untuk tumbuh kembang anak.
Selain sudut pandang ganda Jack terhadap dunia, perspektif-nya terhadap sebuah kejahatan yang ia dan ibu-nya rasakan, juga membuat gue miris, dimana Jack tak mengerti bahwa selama hidupnya mereka telah disekap oleh penjahat, bahkan Jack pun merindukan kamar tersebut.
adegan say goodbye-nya dengan kursi, lemari, wastafel dan segala benda yang menjadi teman-nya dalam beberapa tahun kehidupan-nya, membuat hati meringis.
Bagaimana dengan karakter Ma (Panggilan Jack ke Ibu)? Brie Larson yang dijagokan untuk membawa pulang Oscar di kategori Best Actress in a leading role, bermain sangat brilian, berhasil menggambarkan seorang Ibu, meskipun juga korban, tapi mau bagaimanapun akan terus berusaha, agar anak-nya memiliki pertumbuhan yang normal seperti pada umum-nya, seperti mengajak Jack berkegiatan lari diruangan kecil di setiap pagi. Juga selalu sabar memberikan penjelasan terhadap segala sesuatu yg Jack tanyakan.
Drama ini semakin mengharu biru ketika suara narasi yg juga diisi oleh Jacob Tremblay, berkumandang mengiringi adegan adegan yang diisi letupan emosi, untuk mengutarakan pemikiran bocah kecil yang dikepala-nya penuh dengan dinamika pertanyaan.
Bagaimana pun juga dengan screenplay yang inovatif, Room berhasil mengambil langkah tepat untuk tidak jatuh menjadi drama konvensional, meskipun dengan plot linear, tapi cara-nya merangkum detil story line juga mengkombinasikan dua sudut pandang dalam satu tuturan cerita yang bermuara pada sebuah filosofi mencari arti kebebasan, sangat merasuki hati dan pikiran gue.
Tidak ingat berapa kali gue tertegun, senyum simpul dan mungkin meneteskan air mata, merasakan pergolakan emosi yang dramatis.
Room merupakah sebuah maha karya sempurna di era modern, Sinema tak pernah kehabisan ide!!



4 Komentar
Aku suka bgt reviewnya om. Pengen bisa ngereview ky gini. Hehehe. Emang sih, room itu kata aku juga bagus. Sederhana, antimainstream, dan pemilihan pemainnya pas.
BalasMakasi Isti komen-nya..
BalasIsti juga blog nya asik dibaca, lucu juga
Sofar, Room film terbaik gue di 2015/2016.. Hehehe
Baru nonton ini, telat banget yak --" over all idenya keren bangeet deh.
BalasApa cuman aku doang ya yg nganggep jack itu cewek sampe terakhir potong rambut --" walaupun namanya uda ketaun cowok :D
hahaa.. gpp dari pada gak ditonton sama sekali.. awalnya gue kira juga cewe, tapi keinget pernah liat trailernya pas rambut pendek, jadi memang udah kebawa storynya, karena si Jack ini kan dari lahir sampe segede itu ga keluar dari ruangan, ya mau gak mau rambutnya menjadi panjang karena perubahan alami aja..
Balas