Premis dalam drama keluarga yang kita kenal di jajaran film film Hollywood hanyalah mainstream beriringan dengan coming of age dan satunya lagi seputar disfungsi keluarga dengan nuansa kelam. Captain Fantastic sepertinya berusaha keluar dari keduanya dan mencari jalan tengah.
Bercerita tentang Ben Cash (Viggo Mortensen) yang mengisolir hidupnya untuk tinggal dihutan bersama keenam anaknya. Film ini dimulai dengan adegan uji kedewasaan untuk anaknya yang sulung Bo (George MacKay) yang harus berburu binatang liar, diikuti dengan keseluruh anggota keluarga yang berlumur lumpur.
Penonton diajak mengenal pertama kalinya keluarga ini dengan adegan kekerasan, ditambah keseharian mereka dihabiskan dengan berlatih menggunakan pisau juga memanjat tebing, tetapi beberapa saat kemudian pemandangan satu keluarga bersama mandi disungai, saling mencipratkan air, diiringi gelak tawa, merubah pendangan penonton seketika, bahwasanya film ini tidaklah depresif.
Dibawah bimbingan seorang Ayah, anak-anak ini hidup dengan alam, mempunyai fisik layaknya atlet profesional, serta pemahaman edukasi yang tinggi, bahkan si bungsu mampu menjelaskan definisi kapitalis juga Bill of Right, disaat dua sepupunya yang jauh lebih tua, tidak mengerti sama sekali. Tidak berlebihan memang keluarga ini begitu text book, karena kehidupannya selalu dijejali dengan literatur ideologi, novel Lolita sampai filosofi Noam Chomsky.
Tapi,
Apakah kehidupan ini mampu memberikan hasil yang baik untuk anak anaknya? apakah kepintaran bisa menemukan kecerdasan? apakah hal hal yg banyak mereka ketahui bisa diaplikasikan dengan baik di kehidupan nyata? apalagi sempat ada kecanggungan anak tertuanya untuk berkomunikasi dengan wanita, tentu nya hal ini merupakan hasil isolasi.
Film ini mengambil posisi netral untuk mengangkat isu isu kontroversial, bukan karena permisif untuk bermain aman, tetapi untuk keseimbangan dalam mengkritisi, Matt Ross mengganggu pikiran masyarakat yang cenderung mengutamakan sisi normatif, dengan menciptakan sebuah keluarga hippie intelektual dan menganut pola sikap terbuka dan saling jujur, Terurama karakter Ben sang Ayah, yang enggan menjadi conformist, terlihat jelas pada adegan makan malam Ben tak ragu memberikan anggur kepada anak bungsunya dengan alasan membantu pencernaan, juga menolak menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah umum.
Bagi saya Captain Fantastic begitu luar biasa mendorong berbagai isu, juga pengajaran khususnya di bidang parenting, banyak sekali nilai positif yang bisa dipetik, meskipun ada beberapa adegan agak kurang "nyaman" tapi tetap merangsang saya sebagai penonton untuk meresapi apa yang Captain Fantastic ingin katakan.
Film yang menyabet Best Director di Cannes Film Festival ini berhasil menjadi sebuah drama yang menarik sekaligus "mengganggu" pikiran penonton, satu sisi menjadi sebuah satir terhadap kehidupan sosial, tapi perspektif lain menjadi sebuah studi menarik terhadap karakter juga isu isu sosial, film yang berani tampil terbuka juga penuh warna, meskipun isu yang ditampilkan klasik tapi dikemas secara tajam dan ringan.




0 Komentar