Pahlawan perang yang sering kali kita dengar tidak pernah jauh dari kisah keberanian menghabisi lawan, baik berkolompok maupun seorang diri, superioritas membantai musuh demi musuh kerap membangkitkan rasa patriotisme.
Lalu, bagaimana dengan cerita seorang pahlawan yang berbanding terbalik dari itu semua, jangankan menembak satu peluru, bahkan mengangkat senjata pun enggan, itulah kisah peraih "Medal of Honor" Desmond Doss seorang prajurit Amerika Serikat dalam Perang Dunia II yang normalnya harus membunuh tapi malah meyelamatkan kawan maupun lawan.
Berasal dari keluarga yang kurang harmonis namun religius, Desmond Doss (Andrew Garfield) kecil pernah terlibat perkelahian dengan sang kakak, hingga terjadi sebuah kecelakaan, yang tanpa disengaja batu yang dipegangnya menghantam sang kakak hingga nyaris tewas, kejadian yang sangat membuatnya takut, yang membuatnya merasa melanggar salah satu poin dari The 10 Commandments (thou shalt not kill).
Sang Ayah Tom (Hugo Weaving) merupakan mantan prajurit pada Perang Dunia I, yang mengalami post traumatic stress disorder (gangguan mental yang kerap didapatkan oleh para tentara Amerika), kerap mabuk dan berperilaku kasar merupakan kegiatan utamanya dirumah, bahkan pada suatu momen Tom sempat nyaris membunuh istrinya Bertha (Rachel Griffiths), hal ini menjadi trigger Desmond Doss, kuat menolak membawa senapan di pelatihan Angkatan Bersenjata meskipun dibawah ancaman dianggap pembangkang dan penghianatan.
Naskah yang ditulis Andrew Knight dan Robert Schenkkan terbagi menjadi tiga babak, masa kehidupan normal, masa di barak dan masa di medan perang. Paruh awal kehidupan normal menggali Doss memegang teguh kepercayaannya, menjadikan Doss "percaya" bukan karena sok paling benar melainkan hal manusiawi yang mempunyai luka di masa lalu. Masa karantina, masa dimana Doss mengenal kehidupan militer, saya selalu menyamakan paruh ini seperti dalam film Full Metal Jacket, Sgt. Howell (Vince Vaughn) mereplikasi performa Sgt. Hartman, meskipun tidak sesangar dan sesegar penampilan Lee Ermey, tapi paruh ini sangat menghibur, banyak komedi yang pas dan tidak berlebihan dalam paruh ini.
Kedua paruh awal yang bernuansa ringan dari konflik keluarga, romansa Doss dengan Dorothy (Teresa Palmer) juga kehidupan barak tentara, sangat sangat kontradiktif dengan babak ketiga, dimana penonton akan diajak melihat neraka dunia di tebing "Hacksaw Ridge", Okinawa.
Sebelum membahas penggarapan apik dari Mel Gibson, kita tarik mundur jauh kebelakang tepatnya di tahun 1996 dimana Braveheart menjadi film terbaik dengan menyabet Best Picture dan Best Director Academy Awards, tentu tidak diragukan kemampuannya dibalik layar, lalu The Passion of the Christ (2004) karyanya yang kontroversial, dengan menyajikan penyiksaan Yesus secara brutal bahkan film ini sempat menjadi tren film religi, menjadikan Mel Gibson kian diperhitungkan sebagai Sutradara. Namun kehidupan nya yang berantakan, terlebih ucapannya yang anti-semit sempat membunuh karirnya, Hollywood pun menjauhinya, tak ada lagi filmnya yang sukses didepan maupun dibalik layar.
Dengan Hacksaw Ridge, Mel Gibson kembali membuktikan keterampilannya sebagai sineas, terutama di sequence pertempuran dahsyatnya, disturbing penuh darah dengan banyaknya potongan badan berceceran, isi perut berhamburan, mayat gosong bergelimpangan, Gibson enggan menahan diri dan sangat mengerti cara untuk menghantam jantung penonton, bak genderang perang ledakan demi ledakan bergemuruh memantik kengerian yang berselimut sinematografi bernuansa kelam garapan Simon Duggan jadi terasa begitu old-fashioned, dan Gibson sangat pintar menangkap ekspresi para pemainnya, tanpa banyak bicara tapi emosi mereka bisa sangat meresap ke dalam setiap frame, rasanya susah untuk tidak mengagumi karya historis dari Mel Gibson ini yang juga sempat mendapatkan standing ovation selama 10 menit di pemutaran perdananya di Venice Film Festival 2016.
Seakan bernasib sama dengan Mel Gibson, film ini menjadikan debut kembalinya Andrew Garfield, namanya seakan tenggelam setelah tidak lagi terlibat dalam project film Spiderman, dalam film ini Garfield seakan menunjukkan kapabilitasnya diperkuat dengan tubuh ceking dan tatapan matanya yang lembut berhasil menggambarkan Doss yang konservatif, kisah romansa nya dengan Dorothy (Teresa Palmer) menahan penonton untuk tidak terburu buru melihat medan perang, sekaligus menyuntikkan kehangatan lain dalam kehidupan Doss, Menurut saya penampilan Palmer merupakan yang terbaik sepanjang karirnya, dia sangat mampu memerankan sosok Dorothy yang adorable.
Tuhan tolong kasih aku kesempatan menyelamatkan satu orang lagi, sebuah kalimat yang terus diucapkan Doss dimedan perang begitu mencerminkan keteguhannya mempertahankan sebuah prinsip, Actually Hacksaw Ridge menuturkan banyak pesan agama, namun tak melulu berisi ceramah, ungkapan verbal turut dipamerkan bagaimana sandiwara di medan perang. Suguhan kental religinya sanggup menyulut pemikiran kritis penonton tanpa harus menggurui.




0 Komentar