Sebenernya film ini hanya merangkum 2 dekade, tapi presentasinya buruk banget, gaya jumpy yg bergerak dari lagu ke lagu, membuat film nya terputus putus, tidak bisa membangun emosi penonton, padahal premis nya formulaik banget, karena yg dijadikan landasan "keluarga", tapi tidak ada eksplorasi tentang hubungan antar anggota, juga Freddie-Mary yg sangat sangat dangkal, seolah ketika Love of My Life dilantunkan menjadi hambar.
Plot hole nya terlalu banyak, mungkin salah satu nya adalah signage MEN depan toilet yg secara mudah merubah orientasi seseorang.
Penggambaran dari konser ke konser pun layaknya B-movies, gak banget..
Film ini seolah tersesat, naratif nya tidak utuh, dan seperti tak tahu ingin menyampaikan apa.
Penggambaran dari konser ke konser pun layaknya B-movies, gak banget..
Film ini seolah tersesat, naratif nya tidak utuh, dan seperti tak tahu ingin menyampaikan apa.
Tapi film ini secara keseluruhan tidak bisa dibilang buruk, proses musikalnya sangat menghibur, eksperimen mereka saat menciptakan Bo-Rhap sangat menjelaskan seorang Freddie yang perfeksionis tapi sayangnya tidak bisa mempresentasikan seorang Brian May yg Jenius, May hanya sekali terlihat jenius ketika menciptakan We will Rock you, tapi sayangnya melibatkan para istri itu gak banget, terlalu berlebihan.
Ketika gue memilih pasrah utk terbawa arus, dengan lantunan megah Dont Stop me now, Killer Queen, Somebody to Love, hingga mencapai third act, yang mana merupakan part terbaiknya, terutama ketika film ini me-Reka ulang konser Live Aid, Rami Malek bukan sekedar meniru, tapi seolah Freddie merasuki nya, meski tak bernyanyi live, tetapi gesture dan ekspresinya membuat kita percaya jika ia mampu bernyanyi seperti Freddie Mercury. Akting Rami layak diganjar nominasi Oscar, ketika bagaimana cara ia menggambarkan sosok Freddie sbg manusia rapuh, kesepian, merindukan cinta dan juga ketika Rami bisa membuat tubuhnya bergetar tiap menyadari dirinya sedang menciptakan mahakarya..




0 Komentar