Bohemian Rhapsody, 2018 (dir, Bryan Singer)


Sebenernya film ini hanya merangkum 2 dekade, tapi presentasinya buruk banget, gaya jumpy yg bergerak dari lagu ke lagu, membuat film nya terputus putus, tidak bisa membangun emosi penonton, padahal premis nya formulaik banget, karena yg dijadikan landasan "keluarga", tapi tidak ada eksplorasi tentang hubungan antar anggota, juga Freddie-Mary yg sangat sangat dangkal, seolah ketika Love of My Life dilantunkan menjadi hambar.
Plot hole nya terlalu banyak, mungkin salah satu nya adalah signage MEN depan toilet yg secara mudah merubah orientasi seseorang.
Penggambaran dari konser ke konser pun layaknya B-movies, gak banget..
Film ini seolah tersesat, naratif nya tidak utuh, dan seperti tak tahu ingin menyampaikan apa.


Tapi film ini secara keseluruhan tidak bisa dibilang buruk, proses musikalnya sangat menghibur, eksperimen mereka saat menciptakan Bo-Rhap sangat menjelaskan seorang Freddie yang perfeksionis tapi sayangnya tidak bisa mempresentasikan seorang Brian May yg Jenius, May hanya sekali terlihat jenius ketika menciptakan We will Rock you, tapi sayangnya melibatkan para istri itu gak banget, terlalu berlebihan.


Ketika gue memilih pasrah utk terbawa arus, dengan lantunan megah Dont Stop me now, Killer Queen, Somebody to Love, hingga mencapai third act, yang mana merupakan part terbaiknya, terutama ketika film ini me-Reka ulang konser Live Aid, Rami Malek bukan sekedar meniru, tapi seolah Freddie merasuki nya, meski tak bernyanyi live, tetapi gesture dan ekspresinya membuat kita percaya jika ia mampu bernyanyi seperti Freddie Mercury. Akting Rami layak diganjar nominasi Oscar, ketika bagaimana cara ia menggambarkan sosok Freddie sbg manusia rapuh, kesepian, merindukan cinta dan juga ketika Rami bisa membuat tubuhnya bergetar tiap menyadari dirinya sedang menciptakan mahakarya..


The Truth Beneath, 2016 (dir, Kyoung-mi Lee)


Cerita tentang seorang ibu yg kehilangan putrinya disaat sang suami nyaleg jadi ketua dewan/parlemen, dengan premis yg mungkin umum, memancing beberapa pertanyaan di sequence awal.
Siapakah penculik putri semata wayang nya? Apakah pelaku merupakan lawan politiknya? Ataukah begitu kejamnya sang Ayah, untuk menaikkan elaktabilitas menciptakan kasus ini?
Dari menit awal, film ini berhasil membuat penontonnya tertarik, dan ikut mengumpulkan clue demi clue, hingga berkembang menjadi kompleks.




Narasi yg salah satunya ditulis oleh Park Chan-wook ini begitu kelam dan depresif, ambience yg terasa seperti perpaduan dari Madeo (2009) dan Lady Vengeance (2005) ini tidak hanya menegangkan, tapi juga mampu mencengkrammu dengan kuat.

Dengan pacenya yang lumayan cepat, tanpa sadar memainkan tensimu dengan putaran misteri diberbagai mood berbeda, plotnya membuat penonton terjebak dalam pusaran kuat narasinya yang liar, hingga kemudian terjawab di sebuah ujung yg menghantam dadamu dengan keras.



Tidak berlebihan jika film ini layak disejajarkan dengan masterpiece Korean thriller macam No Mercy (2012), The Chaser (2008) maupun Memories of Murder (2003)


Top 20 Films of 2016



Banyak para pengamat film sepakat jika rilisan tahun ganjil lebih banyak film bagus, dan memang saya akui tahun 2015 lebih banyak film bagus dibanding 2016, walau tak sebanyak 2015, tapi film film terbaik rilisan tahun lalu lebih kaya dengan genre yang beragam, tiap genre mewakili film film terbaiknya.

Meskipun terlambat saya menulis ini, karena memang sengaja untuk menunggu film film yang telat rilis di Indonesia, jadi sebelum membuat daftar tunggu film untuk tahun ini, tidak ada salahnya kita menengok ke belakang sebentar untuk menyaksikan deretan film film terbaik 2016, dari total 193 film yang saya tonton di tahun 2016, berikut 20 film terbaik versi shitnema 21..


#20. ZOOTOPIA, dir. Byron Howard, Rich Moore

#19. THE LOBSTER, dir. Yorgos Lanthimos

#18. SING STREET, dir. John Carney

#17. AMERICAN HONEY, dir. Andrea Arnold

#16. UNDER THE SHADOW, dir. Babak Anvari

#15. TONI ERDMANN, dir. Maren Ade

#14. DON'T BREATHE, dir. Fede Alvarez

#13. THE HANDMAIDEN, dir. Park Chan-wook

#12. CEMETERY OF SPLENDOR, dir. Apichatpong Weerasethakul

#11. NEERJA, dir. Ram Madhvani

#10. A BIGGER SPLASH, dir. Luca Guadagnino

#9. HELL OR HIGHWATER, dir. David Mackenzie


#8. LOVE & FRIENDSHIP, dir. Whit Stillman

#7. THE WAILING, dir. Na Hong-jin

#6. ELLE, dir. Paul Verhoeven

#5. EYE IN THE SKY, dir. Gavin Hood

#4. CAPTAIN FANTASTIC, dir. Matt Ross

#3. HACKSAW RIDGE, dir. Mel Gibson

#2. ARRIVAL, dir. Denis Villeneuve

#1. LA LA LAND, dir. Damien Chazelle

La La Land, 2016 (dir, Damien Chazelle)


La la land, sebuah film tribute untuk Los Angeles, kota yang dipenuhi oleh hasrat, mimpi dan cita cita. Begitupun apa yang akan kamu rasakan ketika menonton film ini, bak terbuai didalam mimpi indah. Karya kedua dari sutradara muda, Damien Chazelle setelah mengawali debut dengan Whiplash yang sukses membawa pulang 3 Oscars, kali ini hadir dengan tema yang ceria tapi tetap bertutur kata yang sama yakni mimpi, musik dan cinta. Dengan masih mengusung Jazz, penonton akan terhipnotis masuk kedalam alam bawah sadar, terbuai lebih ke dalam imajinasi dan romantisme.

Film dibuka dengan long take adegan musikal ditengah keramaian jalan bebas hambatan dengan balutan penuh keceriaan, menghantarkan kesebuah pertemuan dua tokoh utama Mia Dolan (Emma Stone) seorang barista yang bertahun tahun audisi sana sini bercita cita untuk menjadi seorang aktris - dengan Sebastian Wilder (Ryan Gosling) seorang pianis jazz idealis, yang memimpikan jazz tradisional akan berjaya kembali di LA, lewat klub jazz-nya sendiri. Ya, kedua manusia lawan jenis yang mempunyai mimpi yang berbeda namun sama kuat ini bertemu, hingga akhirnya cinta perlahan menyatukan keduanya, hal ini bukan merupakan akhir cerita mereka, tentu masih ada cita cita yang akan mereka perjuangkan bersama


Bagaimana La la land bergerak dan bercerita tentang percintaan dan impian lewat naskah garapan Chazelle menempatkan Seb dan Mia diposisi yang sama, yaitu pengejar mimpi yang terbentur oleh realita, bagaimana keduanya, khususnya Seb untuk mewujudkan mimpinya sesegera mungkin yang akhirnya terbentur idealisme, terlihat bak cinta segitiga antara Mia, Seb dan mimpi-mimpi mereka. Dibawah arahan Chazelle dan balutan scoring indah Justin Hurwitz yang notabene menjadi nyawa dalam sebuah mahakarya yang megah ini, setiap adegan mentranlasikan mimpi indah, juga camerawork, Linus Sandgren berhasil mengabadikan picture yang mempesona, hampir semua gambar di film ini surga. La la land berhasil mempersembahkan sebuah karya yang magis, dengan segala dinamikanya, kekompakan semua departemennya dari skenario, musik, lirik, akting, koreografi, framing juga camera movement, tata artistik, tata cahaya hingga editing-nya bergerak dalam ketukan yang sama.

Konsep film yang terlahir akan kecintaan terhadap hal klasik, terlihat dari beberapa terinspirasi dari judul-judul klasik macam "Singin' in the Rain", "An American in Paris", hingga "The Band Wagon" juga sangat terasa sekali klasiknya dengan penggunaan rasio cinemascope buat gambarnya -- tentu saja La la land bukan film musikal rata-rata, bukan hanya film yang diiringi musik, tapi seluruh bagian dalam film ini merupakan musik itu sendiri, yup bagaikan sebuah musik, yang mempunyai fungsi instrumen, notasi untuk harmoni, sudah sepantasnya bila La la land disematkan sebagai film musikal terbaik masa kini.


Tak hanya kehebatan dari kemasannya, performa Ryan Gosling dan Emma Stone juga punya peran besar, meskipun dipasangkan untuk kesekian kalinya, tapi disini sangat terasa sekali mereka menyelam lebih dalam, hingga chemistry keduanya tak terbendung dan meluap ke layar. Interaksi keduanya mempunyai nyawa, akting mereka saling melengkapi, dari Gosling yang cenderung bermain gestur, hingga Stone yang handal dalam ekspresi wajah, tak hanya itu keterampilan Gosling bermain piano sukses menjadikan karakter Seb yang kuat dengan beribu passion-nya tentang jazz hingga membuat penonton jatuh cinta akan idealismenya, begitupun apa yang saya rasakan terhadap Stone, selain mampu menyampaikan tiap emosi Mia ke penonton, dari yang senang, marah hingga putus asa, Stone pun mampu merealisasikan sebuah koreografi yang mengutamakan rasa ketimbang kompleksnya gerakan, Stone mampu menggambarkan sebuah kejujuran akan tidak semua orang piawai menari, namun gerakan tubuhnya sanggup memancarkan emosinya, begitupun kejujuran lainnya yang memang sangat pas karakter Mia diperankannya, yakni suaranya yang serak cenderung kasar, mampu memvisualisasikan karakter Mia yang tulus dan tidak palsu.


La la land begitu mengena, dengan fusion retro-modernnya, sukses mengolah ambience klasik tetap relavan dan kekinian, selain itu juga berhasil menyampaikan pesan realistis, sederhana, dan sanggup memotivasi siapa saja untuk tidak menyerah mengejar mimpi dan cita-cita. sepanjang durasi saya merasakan kesenangan yang teramat sangat, hingga akhirnya konklusi itu datang, menghentak saya dengan epilog yang bittersweet, yang menggambarkan tentang kehidupan, dimana hidup merupakan sebuah rangkaian peristiwa, kegagalan salah satunya, tapi hal itulah yang memaksa hidup untuk terus bergerak maju.


Bagaimana Sebuah Film Memenangkan Best Picture Oscar?



Dalam beberapa bulan kedepan, ajang penghargaan industri perfilman dunia Academy Awards 2017 atau lebih kondang dikenal Oscar akan digelar, perhelatan tahunan yang diberikan oleh sebuah organisasi penghormatan profesional yang disebut AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) ini pertama kali digelar pada tahun 1929, hingga saat ini member AMPAS yang memiliki hak suara berjumlah sekitar 6.000 orang.

Ajang yang selalu membuat kejutan dalam tiap tahunnya ini kerap mengumumkan film film yang kurang familiar bagi penonton awam, atau kurang box office, tapi faktanya, ada 3 film box office yang mendapatkan Oscar dan malah tercatat dalam sejarah menjadi sebuah film yang mendapatkan Oscar terbanyak, yaitu Ben Hur (1959), Titanic (1997), LOTR; The Return of the King (2003) yang sama sama memenangkan 11 oscar ditahunnya, selain mendapatkan piala diberbagai kategori technical, ketiga film tersebut juga diganjar Best Picture, merupakan suatu kewajaran jika film mendapatkan banyak piala, juga di nobatkan menjadi Film terbaik.



Lalu bagaimana dengan film film yang banyak menggondol piala oscar dalam satu gelaran, tapi tidak diganjar menjadi film terbaik di tahun itu? tentu masih ingat tahun lalu dimana Mad Max: Fury Road (2015) yang sukses diganjar enam Oscar, tapi tidak memenangkan Best Picture, justru Spotlight yang menyabet kategori tertinggi tersebut, total hanya 2 (dua) piala yang Spotlight bawa pulang, salah satunya Best Original Screenplay, meski bukan syarat mutlak, lazimnya Film yang meraih Best Picture atau Film Terbaik, sepantasnya mendapatkan lebih banyak piala atau seenggaknya sama banyak dengan pesaingnya seperti tahun lalu, The Revenant bahkan mendapat 3 (tiga) piala.

Begitupun dua tahun lalu kala Gravity merajai Oscar 2014 dengan menyabet 7 Oscars, tapi tidak mendapatkan Best Picture, kategori tersebut akhirnya malah menjadi milik film yang dibintangi oleh Brad Pitt "12 Years A Slave".
lalu ada "The Aviator", yang mengumpulkan 5 Oscars di 2004, harus rela dipecundangi "Million Dollar Baby" karya Clint Eastwood sebagai film terbaik. Begitupun "Star Wars: A New Hope" di tahun 1978 yang menggondol 6 Oscars dari 11 nominasi, harus mengakui keunggulan "Annie Hall" garapan Woody Allen, yang juga meraih Best Director, dan masih banyak sekali kejutan kejutan dalam perhelatan Academy Awards dari tahun ke tahun, terutama dalam kategori Best Picture.

Keunikan Oscar memang terletak dalam kategori Best Picture, jadi bagaimana sebuah film bisa memenangkan Best Picture? Pada kategori tertinggi ini, tehnik preferential ballot memang berbeda dengan kategori lainnya, para member AMPAS diminta membuat ranking dari nominasi yang ada dalam kategori ini, setelah semua suara masuk, semua data akan ditabulasi, film yang memenangkan Best Picture harus mendapat setidaknya 50% suara, lalu bagaimana jika belum ada yang mencapai angka tersebut?

Saya akan sedikit memberikan simulasi, dan mengambil contoh perhitungan oscar tahun 2014, anggaplah perhitungannya seperti ini:
1. Gravity (20%)
2. 12 Years A Slave (18%)
3. The Wolf of Wall Street (16%)
4. American Hustle (14%)
5. Captain Phillips (12%)
6. Dallas Buyer Club (8%)
7. Nebraska (7%)
8. Her (3%)
9. Philomena (2%)



Karena belum ada satupun mencapai setengah dari 6.000 suara, maka film urutan terbawah (Philomena) otomatis akan gugur, dan akan dilihat dalam kertas suara si pemilih Philomena, film apakah yg menjadi urutan kedua nya setelah Philomena, misal salah satu voter pemilih Philomena menempatkan 12 Years A Slave diposisi kedua dalam rangking film nya, maka otomatis suara voter tersebut akan diberikan ke posisi kedua dari daftar rangking si voter (dalam hal ini 12 Years A Slave) apabila angka 50% belum tercapai, giliran suara Her atau Nebraska yang juga akan dipecah, dan memberikan suaranya ke pilihan kedua dari daftar rangking si voter, proses ini akan terus berlanjut hingga salah satu film menyentuh 50%.

Metode ini sangat memungkinkan untuk film 12 years A Slave yang pada putaran pertama di urutan kedua, akan merangsek naik dan memenangkan Best Picture, film ini jauh lebih aman dan menjangkau audience dibanding Gravity, film karya Alfonso Cuarón ini tergolong divisive, film dengan banyak pemuja tapi tentu tidak sedikit pula haters nya dengan alasan experimental (tahun lalu Mad Max: Fury Road bisa dijadikan contoh juga), sehingga kemungkinan Gravity atau Mad Max diposisi juru kunci dalam satu surat suara lebih besar ketimbang 12 Years A Slave atau Spotlight tahun lalu, minimal film film ini berada di posisi 2 - 4 dalam satu surat suara, sehingga ketika suara didistribusikan peluang penambahan suara dari voter Philomena jauh lebih tinggi akan masuk mengisi 12 Years A Slave dibanding ke Gravity.



Jangkauan penonton 12 Years A Slave tentu lebih luas, film ini mengusung tema penting dan meyoroti isu sosial di Amerika sana, artinya tendensi voter menempatkan film ini diatas Gravity (meskipun bukan diperingkat pertama) berpeluang lebih tinggi, karena menilai sebuah film bukan sekedar dikualitas, ada pula unsur seberapa mampu film ini mewakili wajah kehidupan sosial, tentu saja di 2014, film film seperti 12 Years A Slave, Wolf of Wall Street dan Dallas Buyer Club punya nilai lebih, namun karena The Wolf of Wall Street lebih segmented, dan Dallas Buyer Club (hmm ya memang tidak lebih baik dari 12 Years A Slave), jadi menutup peluang kedua film tersebut.

Selain aspek diatas, untuk acuan memprediksi atau menebak jawara Oscar, ajang "Screen Actor Guild Awards" (SAG), "Director Guild Awards" (DGA) dan "Producer Guild Awards" (PGA) juga bisa dijadikan acuan, ketiga ajang tersebut digelar beberapa minggu sebelum Oscar, dan jurinya sebagian besar merupakan anggota AMPAS, tahun lalu pemenang film terbaik SAG sama dengan Oscar, Spotlight. sedangkan DGA memberikan Alejandro G Inarritu Sutradara terbaik yang juga diikuti oleh Oscar, lalu film terbaik di PGA, 67% menjadi film terbaik di Academy Awards.

Hacksaw Ridge, 2016 (dir. Mel Gibson)


Pahlawan perang yang sering kali kita dengar tidak pernah jauh dari kisah keberanian menghabisi lawan, baik berkolompok maupun seorang diri, superioritas membantai musuh demi musuh kerap membangkitkan rasa patriotisme.
Lalu, bagaimana dengan cerita seorang pahlawan yang berbanding terbalik dari itu semua, jangankan menembak satu peluru, bahkan mengangkat senjata pun enggan, itulah kisah peraih "Medal of Honor" Desmond Doss seorang prajurit Amerika Serikat dalam Perang Dunia II yang normalnya harus membunuh tapi malah meyelamatkan kawan maupun lawan.

Berasal dari keluarga yang kurang harmonis namun religius, Desmond Doss (Andrew Garfield) kecil pernah terlibat perkelahian dengan sang kakak, hingga terjadi sebuah kecelakaan, yang tanpa disengaja batu yang dipegangnya menghantam sang kakak hingga nyaris tewas, kejadian yang sangat membuatnya takut, yang membuatnya merasa melanggar salah satu poin dari The 10 Commandments (thou shalt not kill).
Sang Ayah Tom (Hugo Weaving) merupakan mantan prajurit pada Perang Dunia I, yang mengalami post traumatic stress disorder (gangguan mental yang kerap didapatkan oleh para tentara Amerika), kerap mabuk dan berperilaku kasar merupakan kegiatan utamanya dirumah, bahkan pada suatu momen Tom sempat nyaris membunuh istrinya Bertha (Rachel Griffiths), hal ini menjadi trigger Desmond Doss, kuat menolak membawa senapan di pelatihan Angkatan Bersenjata meskipun dibawah ancaman dianggap pembangkang dan penghianatan.


Naskah yang ditulis Andrew Knight dan Robert Schenkkan terbagi menjadi tiga babak, masa kehidupan normal, masa di barak dan masa di medan perang. Paruh awal kehidupan normal menggali Doss memegang teguh kepercayaannya, menjadikan Doss "percaya" bukan karena sok paling benar melainkan hal manusiawi yang mempunyai luka di masa lalu. Masa karantina, masa dimana Doss mengenal kehidupan militer, saya selalu menyamakan paruh ini seperti dalam film Full Metal Jacket, Sgt. Howell (Vince Vaughn) mereplikasi performa Sgt. Hartman, meskipun tidak sesangar dan sesegar penampilan Lee Ermey, tapi paruh ini sangat menghibur, banyak komedi yang pas dan tidak berlebihan dalam paruh ini.
Kedua paruh awal yang bernuansa ringan dari konflik keluarga, romansa Doss dengan Dorothy (Teresa Palmer) juga kehidupan barak tentara, sangat sangat kontradiktif dengan babak ketiga, dimana penonton akan diajak melihat neraka dunia di tebing "Hacksaw Ridge", Okinawa.

Sebelum membahas penggarapan apik dari Mel Gibson, kita tarik mundur jauh kebelakang tepatnya di tahun 1996 dimana Braveheart menjadi film terbaik dengan menyabet Best Picture dan Best Director Academy Awards, tentu tidak diragukan kemampuannya dibalik layar, lalu The Passion of the Christ (2004) karyanya yang kontroversial, dengan menyajikan penyiksaan Yesus secara brutal bahkan film ini sempat menjadi tren film religi, menjadikan Mel Gibson kian diperhitungkan sebagai Sutradara. Namun kehidupan nya yang berantakan, terlebih ucapannya yang anti-semit sempat membunuh karirnya, Hollywood pun menjauhinya, tak ada lagi filmnya yang sukses didepan maupun dibalik layar.

Dengan Hacksaw Ridge, Mel Gibson kembali membuktikan keterampilannya sebagai sineas, terutama di sequence pertempuran dahsyatnya, disturbing penuh darah dengan banyaknya potongan badan berceceran, isi perut berhamburan, mayat gosong bergelimpangan, Gibson enggan menahan diri dan sangat mengerti cara untuk menghantam jantung penonton, bak genderang perang ledakan demi ledakan bergemuruh memantik kengerian yang berselimut sinematografi bernuansa kelam garapan Simon Duggan jadi terasa begitu old-fashioned, dan Gibson sangat pintar menangkap ekspresi para pemainnya, tanpa banyak bicara tapi emosi mereka bisa sangat meresap ke dalam setiap frame, rasanya susah untuk tidak mengagumi karya historis dari Mel Gibson ini yang juga sempat mendapatkan standing ovation selama 10 menit di pemutaran perdananya di Venice Film Festival 2016.


Seakan bernasib sama dengan Mel Gibson, film ini menjadikan debut kembalinya Andrew Garfield, namanya seakan tenggelam setelah tidak lagi terlibat dalam project film Spiderman, dalam film ini Garfield seakan menunjukkan kapabilitasnya diperkuat dengan tubuh ceking dan tatapan matanya yang lembut berhasil menggambarkan Doss yang konservatif, kisah romansa nya dengan Dorothy (Teresa Palmer) menahan penonton untuk tidak terburu buru melihat medan perang, sekaligus menyuntikkan kehangatan lain dalam kehidupan Doss, Menurut saya penampilan Palmer merupakan yang terbaik sepanjang karirnya, dia sangat mampu memerankan sosok Dorothy yang adorable.

Tuhan tolong kasih aku kesempatan menyelamatkan satu orang lagi, sebuah kalimat yang terus diucapkan Doss dimedan perang begitu mencerminkan keteguhannya mempertahankan sebuah prinsip, Actually Hacksaw Ridge menuturkan banyak pesan agama, namun tak melulu berisi ceramah, ungkapan verbal turut dipamerkan bagaimana sandiwara di medan perang. Suguhan kental religinya sanggup menyulut pemikiran kritis penonton tanpa harus menggurui.