Film indie berbalut crime-comedy yang menceritakan Sin-Dee Rella (Kitana Kiki Rodriguez) yang baru saja keluar dari hotel prodeo setelah bermalam selama sebulan.
Disutradarai Sean Baker, film ini mencuri perhatian Sundance Film Festival, bukan karena tema LGBT nya yg eksplisit, tetapi seluruh proses pengambilan gambarnya menggunakan Iphone 5s! Yes, handphone besutan apple yang hanya mempunyai resolusi tidak lebih dari 8 (delapan) megapixel.
Tetapi jangan remehkan sinematografi film ini, dengan dukungan aplikasi Filmic Pro (yg mengatur fokus, aperture dan temperatur warna) ditambah Steadicam/Tripod (menjaga Iphone tidak goyang) dan Anamorphic adapter lens, dengan lensa tambahan itu membuat gambar yang dihasilkan sangat bagus, natural dengan warna warna mencolok yang indah.
Opening sequence dengan gambar satu potong donat, yang akan di bagi dua, antara Sin Dee dengan Alexandra (Mya Taylor), yang diiringi dengan musik elektronik menghentak, adalah cara Sean Baker memaksa penonton untuk mulai menyimak keras-nya dunia prostitusi.
Dengan donat yg dibagi dengan teman seperjuangannya, tampak jelas Sin-Dee berasal dari kelas ekonomi bawah, tapi itu bukan sebuah masalah untuk-nya, sebuah cerita dari Alexandra mengenai kekasih-nya, yang juga sekaligus germo Sin-Dee yang telah berselingkuh ketika Sin-Dee di penjara, itulah yang menjadi masalah dalam hidup-nya.
Cerita lalu berkembang dengan pencarian kekasih dan selingkuhannya, terpampang selama 88 menit, Sin-Dee sibuk mengintrogasi teman maupun lawan dimana keberadaan sang kekasih.
Naskah dan screenplay yang ditulis oleh Sean Baker bersama Chris Bergoch memang sangat vulgar, menandakan Sean Baker memang tak berniat "menopengkan" kehidupan dunia hitam di tengah kepalsuan kota Los Angeles, CA.
Kepalsuan? ya, karena disaat bersamaan Sean Baker juga menggambarkan kepalsuan seorang imigran asal Armenia bernama Razmik (Karren Karagulian) yang sehari-hari hanya menarik taksi.
Berkeluarga, mempunyai istri dan anak yang cantik hanya merupakan sebuah topeng bagi kehidupan-nya, karena disela-sela kesibukan mencari penumpang, Razmik kerap menggunakan jasa pelacur transgender. Orientasi seksual-nya telah berubah, bahkan seorang pelacur wanita, yang tidak sengaja dia pilih, ditolak oleh Razmik mentah-mentah.
Meskipun plot Tangerine biasa saja, bahkan sangat sering gue tonton film dengan alur seperti ini, tapi aspek visual, Narasi, serta kejujuran dan apa-adanya yg di gambarkan dalam sosok Sin-Dee membuat gue terhipnotis untuk terus menyimak keseluruhan film ini.
Juga karakter pelacur transgender, kadang begitu menggelitik dan penuh misteri.


2 Komentar
Baru nonton 15 menitan. Belum aku terusin lagi. Padahal pengen bgt ngabisin sampe abis. Lebih tepatnya maksain. Pengen tau cakepnya dimana.
BalasPaksain dong, sayang lho pelem unik begini..
BalasMakasi Isti komen nya