Gett: The Trial of Viviane Amsalem, 2014 (dir. Ronit Elkabetz)



Sangat klise sekali jika masih ada pola pikir yg mengutamakan cinta diatas segalanya dalam sebuah pernikahan. Realita-nya banyak faktor yang harus diutamakan dalam sebuah hubungan yang sakral ini, salah satu-nya adalah saling menghormati.
Salah satu karya terbaik dari Israel ini berkisah tentang perjuangan seorang wanita paruh baya Viviane Amsalem (Ronit Elkabetz) yang mengajukan talak atas suaminya Elisha Amsalem (Simon Abkarian)

Film yang hanya bersetting di dalam ruang sidang pengadilan agama Yahudi, selama 115 menit ini, menunjukkan pada kita, berat-nya seorang wanita mengajukan perceraian disana, terlebih tergugat adalah suami yang baik, soleh dan masih mencintai Viviane, seorang pria yang terhormat dari keturunan orang terpandang.
Surat perceraian tak kunjung keluar hingga bertahun-tahun, dikarenakan Suami tidak menyetujui perceraian ini, bahkan beberapa kali sidang pun tergugat tidak hadir. Proses panjang yang melelahkan baik secara fisik maupun mental, khususnya bagi si penggugat.
Persidangan yang berlarut-larut mungkin tak akan terjadi seandainya suami mau berlapang dada menerima talak, Penonton pun takkan tersiksa seandainya sang pengadil mampu bertindak tegas.

Salah satu nominasi Best Foreign Academy Awards 2014 ini mampu membawa penonton untuk masuk kedalam dunia nya, terlebih juga, film ini mampu mengajak penonton lebih jauh lagi, dengan bermodal tehnik camera secara close-up yg menangkap emosi Viviane, dari perkataan hingga teriakan. Penonton diajak mempelajari detail dari segala emosi yg ada dalam sebuah karakter, dan terbuai dengan ragam emosi berbeda, dari kesal, capek, tegang, simpati bahkan sampai terintimidasi.

Salah satu courtroom drama-thriller ini berhasil menyalurkan emosi-nya, diisi dengan banyak perdebatan dan juga pertikaian dengan intensitas yang tinggi.
Viviane mampu menggambarkan sebuah kelelahan dan menggiring penonton keujung kesabarannya.
Juga meskipun karakter Elisha tak banyak bicara, tapi Simon Abkarian mampu menggambarkan sebuah ego dari seorang lelaki yg keras kepala.

Sebuah kritikan terhadap hukum agama Yahudi dengan menggali makna sebuah pernikahan yang menawarkan segala kedinamisan sebuah emosi karakter wanita yang lelah, mungkin tak berlebihan jika dikatakan perpaduan dari A Separation dan 12 Angry Men?!


Previous
Next Post »
0 Komentar