Menjadi dewasa, meninggalkan semua masa muda, kesenangan dan kebebasan, ditambah harus memikul rasa tanggung jawab yang besar merupakan satu titik dimana banyak remaja takut untuk menghadapi-nya. The Diary of Teenage Girl memvisualisasi-kan itu semua dengan premis coming-of-age seorang gadis yang dewasa terlalu cepat dibanding remaja se-usia-nya.
Film adaptasi dari novel berjudul sama, karya dari Phoebe Gloeckner, menceritakan Minnie Goetze (Bel Powley) yang memasuki periode pencarian jati diri serta diiringi dengan hasrat seksual menggebu. Diusianya yang menginjak 15 tahun, mencinta dan dicintai adalah tujuan hidup-nya, satu momen dimana Minnie dengan mudah melepaskan keperawanan-nya ke pria yang jauh lebih tua Monroe Rutherford (Alexander Skarsgard) juga merupakan kekasih dari Ibu-nya (Kristen Wiig) menimbulkan gejolak emosi besar dalam diri Minnie.
Dialog dan gesture jenaka, sangat apik di bawakan oleh Bel Powley, dengan skenario gila, penonton diajak tersenyum melihat tingkah laku Minnie yang sinting ketika memandang bentuk badan-nya di depan cermin, lalu mimik kepuasan juga kebanggaan setelah melakukan hubungan badan pertama-nya dan banyak momen memorable lain-nya.
Film yang memenangkan beberapa penghargaan dari para kritikus ini, mempunyai tensi tinggi ditambah tone yang ceria, mencoba menyibak secara gamblang, mana yang benar dan mana yang salah dalam pilihan hidup di masa muda, berusaha untuk tidak menggurui, Marielle Heller sang sutradara wanita ini menyajikannya dengan bijak, tidak kaku juga menyentuh tanpa melupakan unsur komedi, berusaha untuk mencari sedikit kebenaran terhadap dunia remaja bahkan mungkin orang tua, bahwasa-nya sebuah seksualitas, bukan merupakan aktifitas duniawi yang tabu, juga horror yang dapat merusak masa depan seseorang.


0 Komentar