Eye in the Sky, 2016 (dir. Gavin Hood)


Perang tak pernah sederhana untuk siapapun, mau yang terlibat langsung disebuah medan ataupun yg hanya terkena imbas, meskipun perang melahirkan gagasan dan upaya menciptakan perdamaian Dunia, tetapi banyak pemikiran dan konsekuensi yang selalu menghambatnya.

Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren) memimpin upaya pemberantasan teroris dari kelompok Al-Shabaab, Operasi ini melibatkan Intelijen Inggris, Kenya dan juga Amerika Serikat, pergerakan para teroris selalu diawasi reaper drone yang dikendalikan jarak jauh oleh Steve Watts (Aaron Paul) dan pengintaian jarak dekat menggunakan video bugs yang di tunggangi Jama Farah (Barkhad Abdi).
Dan operasi ini juga turut disaksikan oleh Jaksa Agung, Menteri Pertahanan dan Panglima Militer Letnan Jendral Frank Benson (Alan Rickman) yang menjadi penghubung antar elite dengan prajurit.

Misi ini sebetulnya sederhana, drone bertugas untuk mendapatkan identitas para target yang sudah sekian lama menjadi buronan pemerintah Inggris, dan kemudian akan disergap oleh para militer Kenya, tetapi menjadi berantakan ketika para target tersebut dibawa kesebuah rumah yang didalam nya juga sudah disiapkan para pengantin yang komplit dengan rompi bom bunuh diri.
Situasi membuyarkan misi dan merubah menjadi misi pembunuhan, dan misi tersebut menimbulkan konsekuensi pelik yang menyeret ranah politis, moralitas yang besar, maupun hati nurani.


Gavin Hood sukses membangun ketegangan dengan hanya problema yang sepele, diperkuat dengan screenplay dari Guy Hibbert yang membangun pondasi kokoh untuk memberikan rasa kecemasan penonton, dengan dialog kuat antar karakter terhadap respon manusiawi terhadap tekanan "strike or not".
Thriller film ini juga mendapat dukungan kuat dari sinematografi yang sebagian besar menggunakan bird eye, yang sukses menangkap pemandangan tandus yang mencekam terhadap sebuah kota yg terkesan mempunyai beribu cerita duka, meskipun minim ledakan layaknya karya Michael Bay, juga tanpa komposisi dentuman pemacu jantung-nya Hans Zimmer, namun film ini mampu mencengkeram ke segala lini emosi, terhitung dua kali terjadi ledakan dalam film ini, itu pun hanya visual yang bekerja tanpa ada-nya effect dentuman mencekam, hanya silent yang memberikan kesan miris terhadap dampak peperangan.

Helen Mirren sang leading role tidak usah diragukan, setiap layer akting-nya selalu menimbulkan hasrat kuat dari seorang penjaga keamanan untuk membasmi para teroris, Alan Rickman di film terakhirnya ini pun sukses menampilkan dua sisi karakter yang berdarah dingin dengan beribu pengalaman menyaksikan kengerian perang, namun di sisi lain hanyalah ayah dari seorang putri, yang diwaktu bersamaan bisa saja membunuh seorang gadis cilik.



Eye in the Sky berhasil mengemas dan menyajikan secara berkelas, dari perihal konsentrasi terhadap proses pengambilan keputusan yang begitu banyak prosedur pemerintahan, menjadi kegemasan terlebih menyinggung sisi moralitas yg menimbulkan kegamangan, memberikan efek ke penonton untuk mendukung kubu yang mana. hingga akhirnya membawa ke ending yang membuat emosi penonton meluap dengan sentuhan dramatisasi yang tanpa menjadi keras maupun terlalu cengeng.

Plot-nya bisa dibilang sederhana, namun menjadi sangat dinamis, karena dipenuhi dialog kuat, juga eksplorasi antar karakter, yang kian lama memperdalam tema film ini, juga berhasil memberikan konflik dilematis mengenai humanisme, menyuntik kebimbangan, juga rentetan ketegangan selama film berlangsung. Meskipun berjalan dengan tempo lambat dan minim aksi, namun cengkramannya sangat kuat dan intens, tak hanya suspenseful, juga punya cerita yang kaya, dengan segala kritik dan isu isu kemanusiaan.


Previous
Next Post »
1 Komentar
avatar

Ah..sayang pas mau nonton film ini keburu turun dari 21 padahal film Alan Rickman yg terakhir

Balas